Senin, September 23, 2013

untukmu yang memperhatikanku...

Hem, apa yang terjadi selama 4 tahun dengan saya? Mungkin kata yang paling tepat adalah “berubah”. Zup, jadi orang yang menyenangkan bagi beberapa orang dan orang lain menilai saya sebaliknya.

Itu wajar, ketika seseorang memberikan keuntungan buatmu, kamu akan menganggapnya wajar dan bagi yang dirugikan, kamu akan menganggapnya aneh, sudah berubah dan kritikan yang lain.

Selama 4 tahun ini, jika dihitung dari pertama kalinya saya putus dengan pacar (dulu), mungkin ada beberapa sifat yang orang lain akan kesal jika menemui atau sudah kenal dengan saya lama.

Pertama, saya orangnya sekarang lebih cuek, dari segi penampilan dan waktu sms atau telefon. Penampilan saya sekarang lebih santai, mau kemana-mana yang penting pakaian lengkap, tidak bugil, saya siap memulai kegiatan. Kecuali acara tersebut butuh pakaian yang lebih sopan, seperti perkawinan, bekerja atau bertamu. Ke mall dengan celana kolor dan sendal jepit? Itu mah biasa bagi saya, pernah pake’ sarung juga kok 

Kalau soal sms atau telefon, saya orangnya gak begitu perhitungan waktu sms ataupun telepon seseorang (saya bisa menghabiskan beberapa ratus ribu untuk membeli pulsa simpati perbulannya lho) tapi saya gak suka sama orang yang marah kalau gak saya perhatiin. Orang tua aja jarang-jarang saya telefon gak marah, ngapain dia mesti sewot? Itulah prinsip saya sekarang.

Sifat ini gw dapet (sekarang pake’ gw yak :D) waktu putus, kesimpulannya itu. Jadi kalau kamu gak pingin sakit hati sama seseorang, kamu harus menjaga jarak dengan orang tersebut.dan kalaupun kamu gak mau menyakiti seseorang, jangan terlalu mendekatinya.

Jurus ini cukup ampuh, buktinya gw single selama 4tahun dan yang paling penting, gw sekarang mau berkonsentrasi membiayai adik gw yang masih sekolah. Gw gak punya tabungan sekarang, itu karena kalau gw punya uang banyak, gw ntar cepet nikah dan adik dan emak gw gak keurus lagi.

dan trauma dibohongin waktu pacaran dulu tu menyakitkan, dan seorang bankir pernah berkata "we give no credit to a liar, even when she speaks the truth"...
Jadi, apa sih yang kamu harepin dari seorang gw ini? Gaji tinggi? Pas-pasan tiap bulan. Perhatian? Gw orangnya cuek cuy. Atau ketenangan hidup karena udah PNS? Gw berencana mau cabut dan kerja di kebun suatu saat nanti, karena gw suka ma taneman.

So, think again, again and again....

Selasa, September 17, 2013

kereta ekonomi: nyaman dan kekeluargaan

hem, kemarin saya pulang ke kampunng halaman. berangkat jumat malam dan kembali minggu sore. saya naik kereta progo dari pasar senen ke kutoarjo yang berangkat jam 10 malem dan kembali menggunakan kereta kutojaya. suasana stasiunnya sudah jauh berbeda, ada pagar pembatas antara kereta kedatangan dan keberangkatan, harus ada tiket untuk masuk ke area stasiun dan ada pembagian pintu masuk bagi tiap-tiap kereta yang berbeda. systemnya sudah mirip di sebuah bandara, malahan tumpukan penumpang di dalam stasiun terlihat sepi, tidak seperti di bandara.

waktu masuk ke dalam kereta, yang saya herankan adalah penumpangnya. mereka sudah saling mengenal satu sama lain, saling bersalaman, bertegur sapa dan saling membagi-bagikan makanan _saya dapet tape goreng lho, enak :). mereka mengobrol dengan asyiknya. setelah kereta menembus batas kota jakarta, para penumpang mulai mengeluarkan barang-barang mereka, kertas kardus, koran bekas, bahkan selotip juga mereka keluarkan. saya juga bawa lho, koran sama selotip...huwahahaha

oke, dan kami mulai saling membagi wilayah kekuasaan untuk tidur di dalam kereta. sebagian kertas koran dilipat dan diselotip untuk menutupi lampu kereta yang menyilaukan di malam hari, sebagian lagi untuk alas tidur. lorong kereta, di atas kursi, di bawah kursi dan bahkan depan toilet pun dijadikan tempat untuk istirahat sejenak bagi para penumpang. saya beruntung karena ada bapak-bapak baik hati yang bawa tiker panjang dan saya boleh tidur di atas tiker beliau :) perjalanan kali ini akan saya tempuh sekitar 7jam, lumayan untuk tidur setelah seharian kerja. sampai di kutoarjo, saya disuguhi udara sejuk, kabt tipis, hawa yang dingin dan seberkas sinar matahari pagi.

heeem, akhirnya, rumah, di mana nasi 3 piring tidak cukup untuk sehari :D

Rabu, September 04, 2013

Selasa, Juli 16, 2013

Butuh bantuan untuk entri data pada Aplikasi SIMAK BMN dan Persediaan?

laporan SIMAK BMN dan persediaan Anda tidak tercatat dengan benar? butuh bantuan untuk membuat laporan SIMAK dan Persediaan tersebut? silahkan email ke wahyuzulianto@gmail.com, tarif berkisar antara 4%-12,5% dari nilai yang diinput. tergantung dari ada tidaknya data yang kami butuhkan untuk menginput ke kedua aplikasi tersebut.
atau Anda hanya butuh bimbingan tentang aplikasi SIMAK BMN dan aplikasi persediaan? hubungi kami di email di atas...

Selasa, Mei 07, 2013

sebuah kalimat penghancur harapan: nasi sudah menjadi bubur...



     Pernahkah kamu mendengar peribahasa atau kata mutiara “nasi sudah menjadi bubur”? boleh dibilang itu bukanlah kata mutiara, lebih tepatnya kalimat penghancur harapan, kalimat yang membuat seseorang putus asa dan bisa saja berakhir dengan bunuh diri, terjun dari lantai 2 sebuah gedung, potong nadi sendiri, menusukkan belati ke perut sendiri atau minum racun.
     Nah, perlu kamu ketahui, mati itu sakit, lebih sakit dari patah hati dan sakit gigi, beneran, percaya sama saya walaupun saya tidak bisa dipercaya tapi untuk yang satu ini, saya jujur sekali.
     Mari kita tengok cara pembuatan bubur. Misalnya kita akan membuat bubur tanpa rasa, hanya ada beras dan ukuran pancinya hanya untuk 5 liter air. Jadi, mari kita buat bubur rasa hambar dengan menyiapkan 1 kilogram beras.
     Pertama, bersihkan beras tadi, masukkan ke panci dengan diberi 3 liter air. Selanjutnya panaskan panci tersebut hingga mendidih dan diaduk-aduk hingga beras tadi hancur, mengembang atau apalah namanya sehingga menjadi bubur hambar yang siap dimakan.
     Di lain tempat, seorang insinyur terkenal yang namanya tidak saya kenal telah menemukan alat pemadat benda dan dia juga menyediakan ukuran hasil pemadatan dari alat buatannya. Alat ini cukup sederhana, hanya terdiri dari belahan bentuk benda (yang salah satunya berbentuk beras) yang di dalamnya kosong untuk mencetak. Ada sudah bisa membayangkannya? Kalau belum, coba bayangkan sekali lagi soalnya kalau belum terbayang, ceritanya akan berakhir di sini.
     Oke, anggap saja kamu sudah bisa membayangkannya. Pada suatu hari, pembuat bubur tadi tidak bisa menghabiskan bubur buatnya karena rasanya yang hambar dan tidak enak rasanya (bisa dibayangkan, bubur hanya terbuat dari nasi, tidak asin, tidak pula manis seperti kamu. Kesimpulannya: tidak enak!).
     Pembuat bubur tadi termenung di pinggir sebuah jalan yang ramai dan tiba-tiba insinyur tadi melihat penjual bubur yang termenung tadi, diajaklah penjual bubur mengobrol dengan sang insinyur.

Insinyur: “ada apa bang kau ngelamun gitu?
Pembuat bubur: “haduh, ini bang, bubur ini kebanyakan buat saya”
Insinyur: “buat aku aja bang kalau gitu (sambil merebut panci berisi bubur yang dari tadi dipegang pembuat bubur dan langsung menyantapnya)”.
Pembuat bubur: “enak, bang?”
Insinyur: “macam mana pula kau ini bikin bubur? Kau meracuni aku atau gimana? (bahasanya sudah tidak memakai SPOK lagi karna sang insinyur sudah marah-marah duluan)”.
Pembuat bubur: “bang, kalau enak, sudah saya habiskan dari tadi…”
Insinyur: “bla…bla…bla…..”
Pembuat bubur:”bla…bla…bla….”

    Saya terangkan saja percakapan mereka, soalnya terlalu panjang. Tapi intinya begini, akhirnya pembuat bubur ingin membuang bubur hambar buatannya. Namun sang insinyur mencegah dan memberikan sebuah ide cemerlangnya. Begini idenya: bubur itukan Cuma dari beras yang diberi air, kalau airnya dihilangkan, jadi beras lagi seharusnya dong? Cuma bentuknya pasti lain, berarti tinggal dibentuk seperti beras saja.
     Lalu dia menggunakan alatnya tersebut (yang sudah saya tulis di atas) untuk mencetak bubur tadi menjadi beras dan tha…tha….jadilah beberapa butir beras.
     Hem, apa inti dari membuat beras dari bubur hambar tadi? Jadi begini intinya: Jangan pernah membuat bubur hanya dari beras saja, coba tambahkan rempah-rempah dan juga garam, rasanya pasti jauh lebih enak (loh?). Dan akhirnya, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, masih ada Tuhan dan bagi Tuhan, semuanya mungkin. Jangan pernah menyerah untuk mengubah nasib kita menjadi lebih baik,teruslah belajar untuk memperbaiki diri dan berdoa masih ada esok pagi.

Dan berakhirlah cerita bubur hambar ini, salam hangat pagi hari…
Bintaro, 23 Mei 2011